BEBERAPA KESALAHAN FATAL DI DALAM BUKU HARUN YAHYA

  

BEBERAPA KESALAHAN FATAL

DI DALAM BUKU HARUN YAHYA

Oleh :

Abu Hudzaifah al-Atsari

 

Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah. Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.

Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam bab ”The Real Essence of Matter”. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah, terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah wa ‘afiyah. Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam “Where is God?” (Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :

“The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about “where” God is. Most of them think that God is up in the “sky”. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with “worldly affairs” once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur’an it is written that God is everywhere” but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear “where” God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?”

Yang artinya adalah :

Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan. Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenai “dimanakah” Tuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas ”Langit”. Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur ”urusan dunia” sesekali waktu. Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali. Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar. Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba. Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi. Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”

Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :

“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all.

Yang artinya :

Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”

Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud. Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :

Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)

Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala sakaratul maut, yaitu :

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)

Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)

Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :

That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”

Yang artinya :

Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”

Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :

That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION”

Yang artinya :

Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”

Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :

“As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the “external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the “external world”.

Yang artinya :

Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.”

Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.

Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :

1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.

2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.

3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.

Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.

Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRF (International Research Foundation) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya. Walaupun di dalam beberapa hal beliau juga melakukan kesalahan-kesalahan yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Oleh karena itu, kami tidak mengambil perkara manhaj dari beliau (DR. Zakir Naik), namun di dalam perkara yang beliau berkompeten di dalamnya, maka tidak ada alasan bagi kami menolaknya.

Wallahu a’lam bish showab.

About these ads
Perihal

لا عيب على من أظهر مذهب السلف وانتسب إليه واعتزى إليه، بل يجب قبول ذلك منه بالاتفاق؛ فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقًا Tidaklah aib (tercela) bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, bernisbat kepadanya dan berbangga dengannya. Bahkan wajib menerima pernyataan tersebut darinya dengan kesepakatan, karena sesungguhnya tidaklah madzhab salaf itu melainkan kebenaran.

Ditulis dalam Bantahan
14 comments on “BEBERAPA KESALAHAN FATAL DI DALAM BUKU HARUN YAHYA
  1. abunabil2000 mengatakan:

    Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menegativkan para pengkritik HArun Yahya. Mereka yg mengritikharun yahya adalah saudara kita juga, semoga itu adalah bagian dari dinamika umat islam dalam perjalanan menuju ukhuwah dan saling memahami dan bersatu dalam tali iman dan islam.
    Perlu diingat bahwa segala yg terjadi ini karena kehendak Allah, kita berharap kebaikan dari apa pun yg Dia kehendaki terjadi. Semoga Allah mengampun saya pribadi khususnya,i kita semua dan menunjuki kita semua jalan yg semakin mendekatkan diri kita kepadaNya, dan semakin mendekatkan tali persaudaraan antar sesama saudara kita, dari gerakan mana pun dia berasal, dari jamaah mana pun mereka berasal.
    Wallaahu a?lam
    wassalam

    Saya sedang mempelajari tulisan anda tsb. Alhamdulillah ada banyak manfaat yang bisa saya petik dari tulisan tersebut, dan saya ucapkan terima kasih wa Jazzakallohu khoyrol jazaa’. Namun, saya ada beberapa komentar thd tulisan anda tsb. Semoga bisa saya muat dalam waktu dekat di blog saya, dan semoga hal ini tmsk bagian dari saling menasehati di dalam perkara yang haq. Wallohu Ta’ala a’lam.

  2. abidfamasya mengatakan:

    Sebenarnya, saya masih belum membaca keseluruhan dari buku-buku Harun Yahya. Mungkin setelah saya membaca buku itu saya akan sependapat. Tapi bagaimanapun juga, orang seperti Harun Yahya termasuk orang yang patut kita baggakan sebagai seorang yang mengkaji ilmu Allah SWT dengan dalam. Hanya saja, mungkin beliau juga belum sadar terhadap kesalahan yang diperbuat. Bagaimanapun juga, tulisan Anda cukup mencerahkan.. Terima kasih
    Wassalam

    Wa’alaikumus Salam
    Harun Yahya adalah salah seorang pemikir Islam, yang bisa salah dan benar sebagai manusia biasa. Dalam hal yang beliau melakukan kebenaran dan manfaat maka wajib kita ambil, namun kesalahan dari siapapun orang tersebut, maka wajib ditolak.

  3. bakwanku mengatakan:

    jawaban lengkap ada disini…janganlah mudah menghakimi orang lain BRO….pelajari saja diri anda sendiri dulu lebih dalam sampai bagian terkecil yang ada ditubuh anda….maka anda akan mengenal diri anda Insya Allah….

  4. bakwanku mengatakan:

    objek Studi jangan hanya pada aktifitas saudara yang lain…tapi pelajari diri sendiri dahulu….Insya Allah akan faham lebih dalam….

  5. Camapum mengatakan:

    Maaf,
    saya tidak mengerti atas kekurangpahaman atau kesalahpahaman anda terhadap tulisan Harun Yahya.
    Apa maksud anda dengan menyarankan kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi setelah sebelumnya anda memberikan 3 predikat yang disandang Harun Yahya. al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, percayakah anda kalau saya katakan bahwa Adnan Oktar hafal al-Qur’an pada usia 9 tahun.

  6. saddadahullahu artinya apa, wahai abu salma?

    Semoga Allah meluruskan beliau

  7. elfath25 mengatakan:

    assalamualaikum…
    sedikit mengomentari; sebagaimana yang saya pahami dari tulisan Harun Yahya yang antum kutib, saya tidak mendapati apa yang antum sangkakan bahkan saya mendapati sebaliknya, yaitu:
    Harun Yahya mengkritik 2 kelompok yaitu:
    1. kelompok yang menganggap Allah berada di atas langit (baca: arsy) dengan membayang-bayangkan seperti berada di balik planet…. (pemahaman ini salah dari segi akidah karena telah melakukan ‘takyif’- ingat makna istiwa’ ‘alal arsy harus tidak boleh diikuti dengan takyif)
    2. kelompok yang berfikir Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau angin…
    adapun tulisan Harun Yahya mengenai “Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all. sebagai orang yang bergelut di dalam penulisan ilmiah tentu antum tahu makna tulisan yang diberi kutip yang berarti tidak bermakna sesungguhnya…
    saya harap antum jangan terlalu mengkritik dengan berlebihan, apalagi dalam pemaknaan istiwa’, oleh sebagian ulama ada yang memaknai dengan ta’wil yaitu kekuasaan… terlepas antum setuju atau tidak dengan pemaknaan ta’wil tersebut, yang pasti tujuan ta’wil itu oleh sebagian ulama untuk menghindari dari tajsim…

  8. Pencari Kebenaran mengatakan:

    Menurut saya bingkai pemahaman terhadap Tuhan memang harus diperluas agar manusia bisa melihat dan memahami Tuhan dari banyak sisi,jadi bukannya dipersempit misal harus mengikuti kacamata sudut pandang tertentu,pengetahuan tentang Tuhan terlalu luas untuk dibingkai mengikuti kacamata satu sudut pandang tertentu,Tuhan memiliki banyak sisi yang tak bisa dibingkai oleh suatu pandangan semata,yang harus diperhatikan dan dicermati dan ditegaskan adalah rambu rambu nya yang terdapat dalam kitab suci misal bila menyamakan Tuhan dengan makhluk (misal : bila menganggap Tuhan beranak),ambil contoh analoginya : tegaskan saja rambu lalu lintas nya sebanyak mungkin diluar itu silahkan pengguna jalan tak perlu merasa dibatasi kebebasannya rambu itu cukup mewakili sebagai batasan yang tidak boleh dilanggar.(maaf ya saya kurang mengerti bila ungkapan ‘Tuhan ada dimana mana ‘ dianggap pandangan yang masih keliru sebab kebalikan dari kata itu justru lebih ganjil makna nya sehingga menjadi : ‘Tuhan tidak ada dimana mana’.)(poin ini saja yang saya kurang fahami).maaf bila keliru.
    Bila Harun yahya dianggap ‘keluar rambu’ dalam memberi deskripsi tentang Tuhan seharusnya dijelaskan rambu yang dilanggar,sebagaimana yang tertera dalam kitab suci-al hadits,tapi acuannya jangan mengacu kepada anggapan bahwa deskripsi Harun yahya dianggap mirip pandangan golongan tertentu sebab pandangan dari golongan tertentu belum tentu bisa dijadikan parameter untuk mengukur apakah pemahaman terhadap Tuhan sudah keluar batas atau masih berada dalam batas.
    Ada banyak manusia dari berbagai golongan dan profesi yang ingin memahami Tuhan dari berbagai sisi dan sudut pandang sesuai ilmu dan pengalaman spiritual masing masing dan ulama harus bijak dan legowo bila ada pemahaman yang baru yang masih terasa ‘asing’ ditelinga sebab itulah kita harus memperluas bingkai pemahaman terhadap Tuhan untuk mengakomodasi pandangan yang nampak ‘berwarna warni’.
    Apalagi saat ilmu pengetahuan berkembang pesat maka pandangan,pemahaman ungkapan,penggambaran terhadap ‘Tuhan’ pasti beraneka warna berwarna warni,bahkan tidak sedikit yang ‘sangat asing’ ditelinga sehingga yang harus dilakukan oleh para ulama sebenarnya adalah disatu sisi harus mengasah tajam tajam rambu rambu (pemahaman terhadap Tuhan) yang ada dalam kitab suci dan al hadits agar umat manusia tidak terlalu merasa bebas dalam membuat deskripsi atau ungkapan tentang Tuhan,tapi disisi lain bingkai pemahaman terhadap Tuhan juga harus diperluas agar orang yang masih diluar Islam terutama tidak melihat adanya bingkai yang terlalu sempit ketika mereka ingin mengekpresikan atau mendeskripsikan pemahaman mereka terhadap Tuhan sesuai pengalaman spiritual dan perkembangan ilmu yang mereka dapati.dengan melihat adanya bingkai pemahaman yang luas mudah mudahan yang diluar Islam tertarik untuk masuk
    Apalagi saudara Harun yahya sedang berjuang melewati jalan berliku dan berat yang harus kita dukung dan jangan sampai justru yang nampak salah (menurut kacamata pandangan tertentu) terlalu diekspose sebab essensi perjuangannya sangat penting. kalaupun ada yang dianggap ‘kekeliruan’ sebaiknya di dialogkan dengan beliau pribadi tanpa diketahui publik,siapa tahu ada jalan tengah yang terbaik,masalahnya saudara kita sedang memiliki banyak beban-tekanan jangan sampai kita saudaranya malah menambahinya.mudah mudahan ada jalan keluar terbaik untuk kemaslahatan kita semua umat Islam.amiin.mohon maaf bila ada kesalahan kata dan kekeliruan sikap jangan sampai membuat perpecahan.mudah mudahan kita bertambah bijak.saya tidak berwenang untuk mengadili ini yg benar ini yg salah (masalah ketuhanan rasanya terlalu luas untuk dibingkai oleh benar-salah menurut sudut pandang manusia spt saya yg awam) tapi mudah mudahan tulisan ini memperluas cakrawala cara pandang kita terhadap persoalan yang berhubungan dengan masalah ketuhanan.
    (bila Tuhan dicari dengan niat baik dan benar diruang -waktu manapun,apapun dan bagaimanapun pengalaman spiritual kita sampai batas manapun ilmu pengetahuan kita Ia pasti selalu bisa ditemukan).

  9. Ady Laxiran mengatakan:

    mohon maaf saudaraku,saya orang awam tentang ilmu agama hanya saja ada perasaan mengganjal ketika saya membaca judul tulisan saudara. ada kata ” kesalahan ” sepertinya terlalu cepat mengambil kesimpulan. bukankah agama melarang kita menjadi orang atau kelompok yang merasa paling benar ? “Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…” bagaimana jika maksud kalimat ini adalah penguasaan Allah .
    “Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.” bagaimana jika yang dimaksud kalimat ini sekedar menjelaskan kemustahilan memikirkan wujud Tuhan dan seperti yang saudara katakan bahwa ilmu NYA lah yang meliputi sagala sesuatu.
    “Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”bagaimana jika kata ilusi mewakili kata fana ?
    “Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.” dan kalimat ini menurut saya hanyalah penekanan mendalam tentang konsep fana tersebut,penggambaran sesuatu yang” tidak nyata ” yang tidak bisa di artikan secara harfiah . menurut saya tidak ada satupun dari yang saudara paparkan diatas merupakan acuan kepada faham wihdatul wujud.bukankah keberadaan Allah adalah perkara gaib kenapa kita harus saling menyalahkan? Setiap orang mampu berdalil tapi apakah dalil yang kita kemukakan sudah benar disisi Allah ? lantas jaminan apa yang kita punya untuk mengatakan bahwa dalil itu benar pada tempatnya ? perkara gaib hanya kepunyaan Allah,maksud tersirat dari tulisan Harun Yahya hanya Allah lah yang tahu
    mohon maaf jika saya khilaf wassalam

  10. saya bukan pengagum harun yahya, dan tak membaca semua buku beliau kecuali beberapa film tentang pemikiran beliau. semoga pikiran saya tentang Snouck Hurgronje di aceh dulu bukan tentang ini ( maaf )

  11. sampean sudah discuss belom dg Pa harunnya???Lebih baik sampean langsung discuss dg mr harun yahya nya untuk berbagi pendapat/ sharing tentang buku yang beliau tulis…tidak langsung memberikan tanggapan kesalahan fatal…gmna klo ternyata beliau yg bnar n sampean yang salah…???

  12. Rohdian Al-Ahad mengatakan:

    Saya sangat merekomendasikan Anda interview langsung dengan Adnan Oktar-nya. Karena dengan berbagai Buku, Video dan Lainnya Harun Yahya telah menginspirasi jutaan umat yang haus akan ilmu agama dan sains.
    Pemahaman yang sempit akan menyempitkan pula pemaknaan
    dan ingat Pemahaman yang sempit akan menyempitkan pula pemaknaan, sekali lagi Pemahaman yang sempit akan menyempitkan pula pemaknaan..
    Jazakallah Ustadz Abu Hudzaifah al-Atsari saddadahullahu, semoga kita tercerahkan dengan dinamika pemikiran ini.

    • Danny Marahaly mengatakan:

      Berarti menurut Anda, orang yang memahami dan meyakini eksistensi Allah Ta’ala selaras dengan ajaran Rasulullah saw adalah orang yang berpemahaman sempit ya Mas….?

      Tanggapan:
      Selaras bagaimana ya?

  13. QONI MUBAROK mengatakan:

    hmmmmmmmmmmmmmm……………………. .. … … … .. .. .. .. bukankah anda mengucapkan tidak akan langsung mnghukumi seseorang itu telah kafir .. dan smcamnya…………

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PENTING!

MOHON MAAF KEPADA PARA PENGUNJUNG SEKALIAN APABILA DI DALAM BLOG INI DITEMUKAN IKLAN-IKLAN YANG KURANG LAYAK. SAYA SUDAH MENGUPAYAKAN UNTUK MENGHILANGKANNYA, NAMUN DIJAWAB OLEH PIHAK WORDPRESS BAHWA UNTUK MENGHILANGKAN IKLAN, KAMI HARUS MENGUPGRADE NYA MENJADI AKUN PREMIUM

KARENA ITU BAGI PARA IKHWAH SEKALIAN AGAR MEMBUKA BLOG SAYA DI ABUSALMA.NET YANG INSYA ALLOH BEBAS DARI IKLAN-IKLAN YANG TIDAK SENONOH. SYUKRON. ABUSALMA.NET SUDAH BERHASIL DIRESTORE KEMBALI, ALHAMDULILLAH

**********************

=>klik sini<=

BEBAS IKLAN INSYA ALLOH

**********************

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.651 pengikut lainnya.

Arsip
Tautan

Journal of Life

Pengusaha Muslim

Ebook Terbaru

Berlemahlembutlah Wahai Penuntut Ilmu : Mutiara Nasehat Syaikh Muhammad al-Imam Sekali Lagi Berlemahlembutlah Wahai Ahlus Sunnah Kepada Ahlus Sunnah

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Ambil Untuk Situs Anda
Jumlah Pengunjung
  • 2,515,596 Orang
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.651 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: