STUDI KRITIS PEMAHAMAN JAMA’AH TABLIGH
Ditulis oleh abu salma di/pada Januari 3, 2007
STUDI KRITIS PEMAHAMAN JAMA’AH TABLIGH DAN KITAB TABLIGHI NISHAB
Oleh :
Abu Salma al-Atsari
SEJARAH SINGKAT
Jama’ah Tabligh didirikan oleh Syaikh Maulana Ilyas bin Syaikh Muhammad Ismail Al-Kandahlawi Al-Hanafi –Rahimahullah- di benua hindia, tepatnya di kota Sahar Nufur. Beliau dilahirkan tahun 1303 H. di lingkungan keluarga yang mengikuti thariqat Al-Jitsytiyyah ash-Shufiyyah. Beliau orang yang hafidz (hafal Qur’an) dan menimba ilmu di Madrasah Diyuband setelah diba’iat oleh guru besar Thariqat, Syaikh Rasyid Ahmad Al-Katskuhi.
Pusat perkembangan jama’ah tabligh ada di India, tepatnya perkampungan Nidzammudin, Delhi. Mereka memiliki masjid sebagai pusat tabligh yang dikeliliingi oleh 4 kuburan wali. Mereka terkesan sangat mengagungkan masjid tersebut dan menganggap suci masjid yang ada kuburannya tersebut. Da’wah jama’ah tabligh menyebar hingga ke Pakistan, Bangladesh dan negara-negara asia timur dan menyebar hingga ke seluruh dunia. Tujuan dakwah mereka adalah membina ummat islam dengan konsep khuruj/jaulah[1] yang lebih menekankan kepada aspek pembinaan suluk/akhlak, ibadah-ibadah tertentu seperti dzikir, zuhud, dan sabar[2].
AQIDAH MEREKA
Jama’ah tabligh bermanhaj shufi dalam masalah aqidah. Tasawwuf sangatlah mendominasi anggota-anggota jama’ah dimana mereka sangat bersemangat dalam ibadah, dan dzikir, melatih diri dengan sedikit makan dan minum, tidur dan berbicara. Mereka juga mencurahkan perhatian besar terhadap mimpi dan takwilnya. Aqidah mereka menurut pandangan ahlus sunnah wal jama’ah adalah rusak dan khatir, sesat dan menyesatkan. Aqidah jama’ah tabligh tercampur baur dengan syirik, khurafat, bid’ah, wihdatul wujud dan hulul [3].Mereka berkeyakinan akan adanya mukasyafah [4], wali-wali aqhtab [5], dan mereka membenarkan ucapan-ucapan syatahat [6]. Mereka juga menghidupkan dan mengajarkan bid’ah-bid’ah syirkiyyat seperti tabaruk [7], tawassul terhadap makhluk, terhadap kuburan-kuburan nabi dan wali, dan kesyirikan-kesyirikan yang nyata lainnya. Mereka juga menghidupkan bid’ah-bid’ah mawalid dengan membaca qashidah burdah yang penuh dengan kesyirikan dan kebid’ahan.[8]
KHURUJ METODE DAKWAH BID’AH
Mereka begitu mencintai metode dakwah mereka yang mereka nama khuruj ini, bahkan seolah-olah khuruj ini termasuk dalam bagian tak terpisahkan dari syariat islam yang murni dan suci ini. Mereka telah mengotori manhaj dakwah nabi dengan memasukkan apa-apa yang bukan dari-nya. Mereka begitu mengagung-agungkan metode ini, sampai-sampai jika ada diantara jama’ah yang disuruh memilih antara khuruj dan haji, maka mereka lebih memilih dan menyatakan keutamaan khuruj, sembari menyatakan, jika kita berhaji maka pahalanya dan kebaikannya adalah untuk kita sendiri, namun jika kita melaksanakan khuruj maka pahala dan kebaikannya selain untuk kita, juga untuk manusia lainnya. Bahkan mereka lebih memuliakan khuruj dibandingkan jihad fi sabilillah, sebab menurut mereka khuruj itulah jihad fi sabilillah. Mereka berdalil tentang disyariatkannya khuruj ini dengan mimpi pendiri jama’ah tabligh ini, yakni Maulana Ilyas Al-Kandahlawi, yang bermimpi tentang tafsir Al-Qur’an Surat Ali Imran 110 yang berbunyi : “Kuntum khoiru ummatin UKHRIJAT linnasi …” mereka menafsirkan kata ukhrijat dengan makna keluar untuk mengadakan perjalanan (siyahah). Sungguh penafsiran yang bathil yang menyelisihi hampir seluruh kitab tafsir ulama’ salaf dan khalaf.Mereka pun ketika khuruj dan berdakwah kepada ummat tanpa disertai ilmu dan bashirah (hujjah yang nyata dan jelas). Mereka mengajak kaum muslimin untuk menegakkan sholat namun mereka tidak mau membahas permasalahan sholat secara mendalam beserta hujjah dan dalilnya sehingga mereka tidak tahu bagiamana sifat sholat rasulullah yang benar itu. Mereka mengajak untuk mencontoh kepada rasulullah sedangkan mereka tidak mengetahui sunnah-sunnah dan hadits rasulullah, mereka tidak peduli entah yang mereka gunakan itu hadits dhaif atau maudhu’, yang penting hadits…!!!Mereka telah menetapkan sesuatu syariat yang seharusnya menjadi hak Allah dan rasul-Nya, mereka mengkhususkan bilangan jumlah hari dalam dakwah (baca : khuruj) secara tertentu tanpa ada keterangannya dari rasulullah, mereka menentukan bilangan hari dalam khuruj dengan bilangan yang tidak ada dasarnya sama sekali dari sunnah. Mereka menentukan bilangan hari khuruj selama 6 bulan, 3 bulan, 40 hari, 20 hari, 7 hari lalu seminggu. Suatu pengkhususan yang tidak berdasar dalam manhaj da’wah rasulullah.
Mereka begitu terdorong dan bersemangat mengikuti hadits rasulullah yang menyatakan : “Balligu ‘anni walau aayah…” (Sampaikan dariku walau satu ayat…) namun mereka melupakan kata ‘annii (dari-ku, yakni dari rasulullah), yang seharusnya mereka menyampaikan ayat yang telah benar-benar nyata dari rasulullah. Mereka juga lupa akan ayat Allah yang berbunyi : “Katakanlah (wahai Muhammad): Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada Allah atas bashiroh (hujjah yang nyata)” (QS. Yusuf 108). Yang seharusnya mereka menyeru kepada islam di atas hujjah yang nyata…!!!
Khuruj yang dilakukan jama’ah Tabligh yang mereka tentukan jumlah harinya pada hakikatnya tidak pernah menjadi amalan generasi para salaf dan khalaf. Yang mengherankan adalah mereka keluar untuk tabligh (menyampaikan islam) namun mereka mengakui bahwa mereka tidak layak untuk tabligh dan bukan ahlinya. Tabligh seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas keilmuan yang mumpuni seperti yang dilakukan oleh rasulullah ketika mengutus delegasinya yang terdiri dari sahabat alim yang mengajarkan islam kepada ummatnya, seperti beliau mengutus Ali bin Abi Thalib, Mu’adz bin Jabal, dan selainnya seorang diri, tidak pernah beliau mengutus serombongan sahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan rasul tersebut.
Karena itu kami menasehati jama’ah tabligh untuk lebih memperdalam ilmu dien ini. Mengenai ucapan mereka -Jama’ah Tabligh- yang menyatakan : “lihatlah para sahabat… mereka berasal dari mekkah, berasal dari medinnah… namun kuburan-kuburan mereka tersebar, ada yang dikuburkan di negeri Bukhara, di negeri samarkhand, di negeri Andalusia…” maka sungguh mereka salah meletakkan ucapan mereka yang mengqiyaskan apa yang dilakukan oleh para sahabat itu sebagai khuruj ala tablighi. Namun adalah mereka, para sahabat –Ridhwanullah ‘alaihim ajma’in- mereka keluar adalah dalam rangka jihad fi sabilillah.
KEANEHAN-KEANEHAN KITAB TABLIGHI NISHAB/ FADHAILUL ‘AMAL
Sungguh, mereka benar-benar telah menjadikan 2 kitab tulisan tokoh mereka yakni Tablighi Nishab[9] yang ditulis oleh Maulana Zakaria al-Kandahlawy dan Hayatus-Shahabah yang ditulis oleh Maulana Yusuf al-Kandahlawy, sebagaimana 2 kitab syaikhani[10], padahal 2 kitab yang mereka jadikan rujukan utama, yang senantiasa mereka baca di setiap waktu, yang mereka cintai, yang selalu mereka bawa kemana-mana, adalah kitab yang sesat lagi menyesatkan, di dalamnya tercampur antara hadits shahih dengan hadits dhaif, maudhu’, dan laa ashla lahu, di dalamnya terkumpul bid’ah, syirik, khurafat, dongeng, mitos, dan kesesatan lainnya[11]. Namun, begitu taqlidnya mereka, begitu husnudh-dhonnya mereka, sehingga mereka biarkan kesesatan itu tetap ada di dalam kitab mereka, mereka tidak ridha dan rela kitab mereka dibersihkan dari kesesatan ini, mereka tetap menginginkan kitab itu seperti apa adanya sebagaimana ditulis oleh penulisnya, dan mereka tidak sadar bahwa penulis kedua kitab itu tidak ma’shum, namun mereka tetap tidak mengindahkannya, dan mereka menganggap seolah-olah penulis dua kitab itu bagaikan wali yang ma’shum. –Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka-Sungguh, telah banyak para ulama’ pencinta kebenaran yang mengkoreksi kitab-kitab semacam ini, yang berusaha membuang dan membersihkan agama ini dari kotoran-kotoran, yang berusaha memelihara kemurnian agama ini, yang berusaha memerangi para ahli bid’ah dan kebid’ahannya. Namun, usaha mereka itu tidaklah mendapatkan tempat bagi orang-orang yang cinta akan kesesatan dan kebid’ahan. Diantara kesesatan kitab itu adalah :
TABLIGHI NISHAB MENCAMPUR HADITS-HADITS MAUDHU’ DAN DHAIF
1. Dalam Fadha’iludz Dzikir, hal. 96 Diriwayatkan dari Umar, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Manakala nabi Adam ‘alahi salam melakukan perbuatan dosa, ia mengetengadahkan kepala ke langit seraya berkata : ‘Ya Rabb, aku memohon kepada-Mu dengan keagungan Muhammad, ampunilah dosaku.’ Maka Allah menurunkan wahyu dari ‘arsy. Lalu Adam berkata : ‘Maha suci nama-Mu, tatkala Kau menciptaku, aku mengetengadahkan kepalaku ke arah arsy, ternyata tertulis padanya, Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Maka aku mengetahui bahwa tak seorangpun yang lebih mulia martabatnya di sisi-Mu daripada orang yang telah engkau jadikan beriringan dengan nama-Mu.’ Lalu Allah berfirman kepada Adam, ‘wahai Adam, sesunggunya Muhammad itu nabi terakhir dan termasuk anak cucumu, seandainya Muhammad tidak diciptakan maka Aku tidak menciptamu.” (Tablighi Nishab, bab Fadhailudz Dzikir, hal 96.)Keterangan : Hadits di atas adalah hadits Maudhu’ dalam Al-Maudhu’at Al-Kabir. Perawi-perawi dalam hadits di atas majhul (tidak dikenal).
2. Dalam Fadha’iludz Dzikir, hal. 109-110
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, bersabda Rasulullah : ‘Barangsiapa menziarahi kuburanku, maka wajib atasnya syafatku.’ (Tablighi Nishab, Bab Fadha’iludz Dzikir, hal. 109-110)
Keterangan : Hadits di atas hadits Maudhu’, lihat Dhaiful Jami’ no 5618.
3. Dalam Fadha’ilul Haj, hal. 101
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang menziarahiku setelah wafat maka ia laksana menziarahiku sewaktu aku hidup.” Berkata penulis : Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Daruquthni dan Baihaqi. Baihaqi menyatakan Hadits ini Dhaif dalam Al Ittihaf. Berdasarkan riwayat Imam Baihaqi dalam Al-Misyqat disebutkan, “Siapa yang melakukan haji dan menziarahi kuburanku, maka ia seperti menziarahiku sewaktu aku hidup.” Berkata penulis : Al-Muwaffiq dalam Al-Mughni menjadikan hadits ini sebagai dalil terhadap keutamaan ziarah ke makam nabi. (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 101)
Keterangan : Hadits di atas Maudhu’ dalam Dha’iful Jami’ no 5563
Inilah sekelumit di antara kandungan hadits-hadits Maudhu’ dalam Tablighi Nishab, yang masih sangat banyak lagi di dalamnya yang harus dibersihkan dan dibuang jauh-jauh, karena Rasulullah bersabda dalam haditsnya yang Mutawattir : “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja maka persiapkan duduknya di atas neraka”, termasuk berdusta atas nama nabi yakni menyampaikan kepada ummat apa-apa yang bukan dari beliau namun disandarkan terhadap beliau, masuk di dalamnya menyampaikan atau menggunakan hadits maudhu’, dan telah sepakat ummat ini bahwa hadits maudhu’ tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil.
TABLIGHI NISHAB BERISI KHURAFAT, HIKAYAT DAN DONGENG.
Muhammad Zakaria al-Kandahlawy –semoga Allah mengampuninya- di dalam bukunya Tablighi Nishab merangkum khurafat, bid’ah, mitos dan hikayat-hikayat yang memekakkan telinga dan jauh dari kodrat dan tidak bisa dibenarkan akal sehat. Rujukan yang dipegangnya tak dapat dipercaya dan ia menukil dari pengarang yang tak mendapatkan legitimasi para ulama’. Diantara kisah-kisah tersebut adalah :
1. Dalam Fadhailul Haj, hal 137-138, akhir bab IX, hikayat ke-13 Dinukil dari As-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi bahwa Sa’id Ahmad Ar-Rifa’I berziarah ke makam Nabi setelah haji pada tahun 555 H. Ia melagukan dua bait syair sebagai berikut :
Dalam hal yang jauh, ruhku kulepaskan….
Bumi menerima dariku, karena ia wakilku…
Inilah kerajaan khayalan yang aku hadiri…
Maka ulurkan tangan kananmu agar terengkuh oleh bibirku…
Lalu tangan nabi yang diberkahi keluar dari makamnya yang mulia dan Ar-Rifa’i pun mencium tangannya.
Penulis menambahkan dalam kitab Al-Bunyan Al-Masyid, “ada 90 ribu orang yang menyaksikan hal itu. Mereka adalah peziarah makam Nabi. Diantara peziara itu adalah Syaikh Abdul Qodir Jailani.”
(Tablighi Anishab, bab Fadhailul Haj, hal 137-138, akhir bab IX, hikayat 13)
2. Dalam Fadha’ilul Haj, hal 133
Syaikh Abu Khair Al-Aqtha’ berkata, “Aku merasa lapar karena selama 5 hari aku belum makan. Lalu aku berziarah dan ketiduran setelah aku membaca shalawat kepada Nabi di sisi makamnya. Aku bermimpi Nabi datang bersama Syaikhani dan Ali Radhiallahu ‘anhu. Kemudian beliau memberi aku sepotong roti. Aku makan roti itu setengahnya, ketika aku terbangun, aku melihat setengah roti sisanya masih ada di tanganku.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 133)
3. Dalam Fadahilul hajj, hal 141
Syaikh Syamsuddin, ketua Khadamul haram An-Nabawi berkata : “Satu jama’ah dari Aleppo menyuap gubernur Madinnah agar mereka dizinkan membongkar makam Syaikhani dan mengambil jasad keduanya. Maka ketika itu datanglah 40 orang laki-laki membawa cangkul pada malam harinya. Keempat puluh orang itu iba-tiba saja hilang di telan bumi. Setelah itu gubernur Madinah berkata, ‘Janganlah kau sebarkan hal ini, atau aku akan memenggal kepalamu.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 141)
4. Dalam Fadha’ilul Haj, hal 87)
Syaikh Zakaria berkata, “Dinukil dari beberapa Syaikh, bahwa seorang Syaikh yang tinggal di negeri Khurasan lebih dekat ke Ka’bah karena ia selalu bersentuhan dengan ka’bah dibandingkan orang-orang yang selalu berthawaf di ka’bah. Bahkan terkadang ka’bah datang mengunjunginya.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 87)
5. Dalam Fadhailush Shadaqah, hal. 588. dikisahkan : Syaikh Zakaria mengerjakan sholat sebanyak 1000 raka’at dengan berdiri. Apabila ia merasa lelah, maka ia sholat dengan duduk sebanyak 1000 raka’at. (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilush Shadaqah, hal 588)
6. Dalam Fadha’ilul Qur’an, hal. 15. Diceritakan : bahwa Ibnu Katib mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari sebanyak 8 kali.
7. Dalam Fadhailul Haj, hal. 218. Diceritakan : bahwa Nabi Khidr mengerjakan sholat shubuh di mekkah dan duduk di rukun syami sampai terbit matahari, kemudian sholat Dhuhur di Madinah, sholat ashar di Baitul Maqdis dan Sholat Maghrib dan Isya’ di Al-Iskandari.
8. Dalam Fadha’ilush Shadaqah hal. 588. Diceritakan : bahwa Abu Muhammad Al Jurairi melaksanaknan I’tikaf di Makkah selama setahun penuh, tidak tidur tidak pula bersandar di dinding atau tiang.
9. Dalam Fadhailul Hajj, hal 135
Seseorang bertanya kepada Nabi Khidir, “apakah kamu melihat seseorang yang lebih mulia daripada dirimu?” menjawab Nabi Khidir, “Pada suatu ketika aku berada di dalam masjid Muhammad (di madinah). Pada waktu itu Imam Abdurrazaq sedang mengajari jama’ah tentang hadits nabi, maka aku melihat seorang pemuda duduk sendiri di pojok masjid sambil meletakkan kepalanya di atas kedua lututnya. Aku bertanya padanya, ‘mengapa kau tidak mengikuti majlis Abdurrazaq dan mendengarkan hadits-hadits nabawi’, ia menjawab, ‘Di sana jama’ah mendengarkan pengajian dari Abdurrarzaq, namun di sini ada seorang sendirian mendengarkan pelajaran Abdurrazaq tanpa ada orang lain.’ Kemudian Nabi Khidr berkata, ‘Jika benar demikian maka katakanlah siapakah aku ini?’ Ia menjawab ‘Kamu adalah nabi Khidr’. Nabi Khidr berkata. ‘dengan demikian aku mengetahui bahwa ada sebagian wali Allah yang tidak aku ketahui dikarenakan ketinggian derajatnya.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Hajj, hal 135)
Banyak lagi hikayat-hikayat lainnya di samping dongeng-dongeng di atas, yang mana di dalam buku ini banyak sekali berserakan di dalamnya mitos, kebatilan, khurafat dan bid’ah. Apakah gerangan yang diinginkan pengarang buku ini dengan memuat segala malapetaka ini? Bagiamana bisa Jama’ah Tabligh menerima sesuatu yang rasanya pahit ini? Bagiamanakah sikap ulama’ mereka terhadap bahaya sufistik ini? Apakah ada yang bisa menjawab? Hanya Allah lah tempat mengadu…!!!
PERNYATAAN ULAMA’-ULAMA’ SUNNAH TENTANG JAMA’AH TABLIGH·
Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashrudin Al-Albani –Rahimahullah- dalam fatawa Al-Imarotiyah hal. 30 ketika ditanya tentang jama’ah tabligh, beliau memberikan jawaban : “Da’wah Jama’ah Tabligh adalah sufi masa kini (shufiyyah ashriyyah) yang tidak berpijak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya…”
· Fatwa terakhir Samahatusy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim ‘alu Syaikh –Rahimahullah- : “Saya jelaskan bahwa jam’iyyah ini (jama’ah tabligh, peny.) adalah jam’iyah yang tidak kebaikan padanya. Sebab itu jam’iyah ini adalah bid’ah lagi sesat menyesatkan.” (fatawa Syaikh Ibrahim, hal. 405 tanggal 29/1/82 H)
· Fatwa terakhir Al-Allamah Samahatusy-Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baaz –Rahimahullah-, ketika beliau ditanya mengenai jama’ah tabligh, beliau menjawab : “…Jama’ah Tabligh dari India yang sudah dikenal ini terdapat khurafat, bid’ah dan syirik pada mereka…” (Fatwa terakhir Syaikh bin Bazz dikutip dari kaset Ta’qib Samahatusy-Syaikh Abdul Aziz bin Bazz ‘ala Nadwah.)
· Syaikh Hammud bin Abdullah At-Tuwaijiri –Rahimahullah- ketika ditanya tentang jama’ah tabligh, beliau menjawab secara terperinci dalam Al-Qoul Al-Baligh fi ar-Roddi ‘ala jama’atit tabligh yang intinya adalah : “Saya katakan bahwa jama’ah tabligh itu kelompok yang sesat lagi bid’ah. Mereka tidaklah mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah dan sahabatnya, juga para tabi’in. Akan tetapi mereka mengikuti metode shufiyyah yang bid’ah…”
· Syaikh Ali Hasan ketika ditanya mengenai kebaikan jama’ah tabligh karena banyaknya pemuda yang masuk islam melalui da’wah mereka, menjawab : “Perkataan itu benar namun kurang! Benar jama’ah tabligh menda’wahi banyak manusia dimana menghasilkan orang yang dahulunya berandalan sekarang bertaubat, tetapi sebagaimana pendapat ulama’, bahwasanya hidayah itu ada dua, yakni hidayah ‘ila thariq (ke jalan) dan hidayah fi thariq (di jalan). Ya.. memang jama’ah tabligh ini mendakwahi manusia ‘ila thariq, tapi mereka tidak berdakwah fi thariq. Bagaimana tidak !!! aqidah mereka saja hancur!!! Mereka mengatakan dalam kitab mereka yang masyhur tablighi nishab yang penuh dengan khurafat serta penyimpangan-penyimpangan…” (kaset muhadharah Syaikh Ali berjudul Manhaj as-Salaf).
· Fatawa Lajnah Al-fatawa fi idaratil Buhuts al-ilmiyyah wal ifta’ wad da’wah wal irsyad, menyatakan : “Jama’ah Tabligh sangat berlebihan dalam hal-hal negatif dan generalisasi terhadap suatu masalah. Jama’ah tabligh tidak jelas mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah dalam berdakwah sampai dengan perincian prinsip-prinsip syariat islam dan cabang-cabang hukumnya…” (dinukil oleh Ust. Falih Nafi’ dalam kitabnya Ad-Diinun-Nashiihah hal 17-18)
NASIHAT BAGI JAMA’AH TABLIGH
Kami nasihatkan bagi jama’ah tabligh dan orang-orang yang simpati pada da’wah mereka, termasuk orang-orang yang mengepankan ukhuwwah dan tidak menegakkan pilar saling menasihati dan membiarkan kebathilan dan kesalahan seperti ini dipendam dengan maksud menjaga ukhuwwah dan supaya ummat tidak terpecah belah, agar : 1. Bertakwa kepada Allah, takut akan siksa-Nya dan adzab-Nya. Menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya dan meninggalkan segala hal yang mengakibatkan murka-Nya.2. Bertaubat kepada Allah akan kesalahan-kesalahan kita, berjanji tidak akan mengulanginya, dan meninggalkan segala pemahaman-pemahaman sesat dan salah yang selama ini kita pegang.
3. Menuntut ilmu dien yang syar’i yang selaras dengan pemahaman salaf ash-sholih, mengamalkannya, mendakwahkannya dan sabar dalam memeliharanya.
4. Senantiasa menegakkan pilar nasehat-menasehati dan tolong menolong dalam kebenaran dan ketakwaan.
Catatan kaki :
[1] keluar wilayah untuk berdakwah dengan jumlah waktu yang telah ditentukan seperti 4 bulan, 40 hari, seminggu, dls.
[2] baca ‘Jama’ah Tabligh’ karya M. Aslam Al-Bakistani –beliau mantan tokoh Jama’ah tabligh yang ruju’ /taubat dari manhaj tablighi-
[3] akan datang keterangannya mengenai kesesatan aqidah jama’ah tabligh ini.
[4] tersingkapnya tabir ghaib sehingga manusia dapat mengetahui yang ghaib dan ini merupakan aqidah shufi yang rusak
[5] keyakinan adanya wali-wali kutub yang memiliki kemampuan mempengaruhi kahidupan makhluk –ini termasuk kesyirikan yang nyata
[6] (ucapan-ucapan yang keluar dari orang-orang shufiyah ketika akal mereka hilang dan mereka menganggap mereka (orang-orang shufiyah ini, peny.) dalam maqam yang paling tinggi dan ucapannya hampir seperti wahyu –Wallahul musta’an)
[7] mencari berkah baik di kuburan ataupun di tempat-tempat yang dikeramatkan dan ini termasuk kesyirikan yang nyata
[8] Baca kitab mereka yang berjudul Bahjatul qulub karya Muhammad Iqbal, salah seorang tokoh jama’ah tabligh, buku ini penuh dengan keanehan-keanehan, kesyirikan dan kebid’ahan yang sesat lagi menyesatkan.
[9] Atau dikenal dengan Fadhailul ‘amal. Nama fadhailul ‘amal ini diambil sebagai upaya pentalbisan dengan mengangkat kebolehan penggunaan hujjah hadits dhaif dalam fadhilah ‘amal (amalan fadhilah), namun mereka melupakan syarat-syarat bolehnya hadits dhoif digunakan sebagai fadhilah amal, lebih jauh lagi, kitab ini bukan hanya mengangkat hadits dhoif saja, namun juga maudhu’, hikayat-hikayat, dan dongeng-dongeng palsu.
[10] Yaitu Bukhari Muslim, wallahu a’lam
[11] Akan menyusul contoh-contohnya dalam risalah ini








Januari 5, 2007 pada 5:29 pm
Pusat perkembangan jama’ah tabligh ada di India, tepatnya perkampungan Nidzammudin, Delhi. Mereka memiliki masjid sebagai pusat tabligh yang dikeliliingi oleh 4 kuburan wali.
Akhy Karim, apakah benar berita ini ? Seorang Karkun JT pernah membantah hal ini dalam forum hidayatullah.com
Gimana Akh, Ana sendiri kurang tau kondisi mesjid Di Nidzamuddin tersebut.
Februari 27, 2007 pada 7:42 am
Tidak seharusnya anda berprasangka buruk terhadap jamaah tabligh yang telah banyak merubah manusia dari batil kepada ketaatan pada allah SWT. harusnya anda ikut dulu khuruj mereka baru bisa merasakan, memahami maksud mereka.
Februari 28, 2007 pada 10:03 pm
Assalamu alaikum WR.Wb.
Saudara2ku se Iman,
Kok begitu antusiasnya kalian menyerang orang2 yang bersyahadat kepada Allah SWT.jangan2 kalian yang bid`ah, karena sama2 kita ketahui bahwa Rasulullah Saw.sangat santun. coba sudah berapa kali kalian menuduh orang bid`ah, dan berapa kali Rasulullah mengucapkan bid`ah, apakah kelompok kalian yang sudah pasti diterima Allah SWT.mengapa kalian begitu gencarnya menuduh yang tidak diperbuat orang lain, dan kelihatannya kalian memancing kemarahan orang lain, jika sudah marah maka pasti didalamnya ada syaitan dan pada akhirnya ummat idlam ini akan gonto2kan, orang lain akan tertawa, saya bertanya2dalam hati, apakah kelompok kalian ini memang untuk memecah2kan ummat Islam. Demikian, dan mohon ma`af atas kebodohan saya.
Wassalmu`alaikum wr.wb
Maret 1, 2007 pada 4:26 pm
Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
alhamdulilah setelah 4 tahun jadi karkun,khuruj Allah menunjuki pada ana manhaj yang haq, ana sendiri ikut paling tinggi 40 hari,
ana pribadi yang terberat meninggalkan JT bukan mengenai dalil atau hadistnya tetapi hal-2 ghaib yang seolah-2 menunjuki bahwa jalan ini yang benar.
di tempat saya tinggal karkun-2 sering ikut kajian dan daurah meski mereka kadang masih khuruj, jaulah 1 dan 2
Maret 4, 2007 pada 4:17 pm
Assalamualaikum Wr WB
Akhi..antum berbicara seolah2 kalianlah satu2nya penghuni surga..semua2 mnrt kepercayaan aliran antum, kalau yang bukan msk aliran antum adalah bid’ah..dan Allah adalah Maha Adil, kejelekan2 yang salafi lakukan terhadap orang lain..ternyata Allah telah buka ..lihat apa yang dilakukan masyarakat lombok pada orang2 salafy dan wahabi..kalian diusir dan ditendang seperti layaknay binatang,ana pikir itulah akibat dari kalian yang sering menjelek2kan orang lain..belajar akhi, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah Nya pada kalian semua..
Walahualam ..
Maret 5, 2007 pada 9:38 am
ana punya saudara, sudah membaca tahdzir ulama Ahlus Sunnah mengenai jama’ah Tabligh tapi kok ternyata masih bersikukuh dengan JT nya. tapi alhamdulillah masih mau mendatangi kajian /majlis ‘ilmu.
Maret 6, 2007 pada 7:32 pm
disitulah kesalahan kalian..tidak menghormati adat istiadat yang berlaku di sana..mgkn mereka melakukan kesalahan karena mengikuti adat yang tidak di sunahkan nabi,bahkan mgkn berbau khufarat dan syrik..tapi ya kasih taunya dengan lemah lembut donk..antum tahu akhi ? dl di desa saya pernah kedatangan JT,dan dengan dakwah mereka,mesjid yan gtadinay sepi kian hari kian ramai..tapi apa yang terjadi ? karena hasutan seorang salafy,karkun2 itu akhirnay diusir dan mesjid menjadi sepi lagi,itu ana alami sendiri akhi, ana tidak pernah menganggap salafi musuh,sama skl tidak..tapi knp bgt antusiasnya mereka membidahkan kami ? bahkan dengan cara keji spt itu ? kalau memang JT itu sesat dan bidah..kok MUI tidak melarang dakwah kami ?
Maret 7, 2007 pada 5:48 pm
nukilan dari saudara abu salma:
Nukilan tersebut ada di buku Syaikh Muhammad Aslam al-Bakistani, mantan pembesar jama’ah Tabligh yang telah bertaubat dan menulis kritikan dan nasehat kepada Jama’ah Tabligh. Maka berita dari beliau lebih kuat tentunya daripada simpatisannya.
Assalamu’alaykum
saudaraku abu salma, mungkin untuk lebih adil, antum bisa membaca buku Maulana Muhammad Ilyas Rah.A, Di antara Pengikut dan Penentangnya. Di terjemahkan dari buku, Maulana Muhammad Ilyas Bayna al Muayyidin Wal Muta’arridlin. Karangan Dr.Abdul Khaliq Pirzada
setidaknya, disana disebutkan mengenai syaikh muhammad aslam al-bakistani yang antum jadikan salah satu rujukan..
tilmidz
Maret 12, 2007 pada 3:19 pm
sama sekali tidak ada maksud untuk membela ahli bidah akhi .. tapi ilmu yang kalian miliki mstnya jangan untuk membidah2an orang lain, seolah2 cm kalian yang pantas masuk surga .. tuduhan2 yang antum blg nasehat itu tidak berdasar..misalnya orang2 jamaah tabligh antum tuduh menyemabh kuburan..akhi,yang berdoa dan menyembah kuburan di kompleks dekat markas tabligh di india adalah orang2 hindu yang kebetulan cara berpakaianny sama dengan JT,apakah antum pernah meneliti sendiri kesana? lagipula kuburan yan gada disana kan terhalang tembok mesjid, dan solat itu sudah dinyatakan sah karena ada penghalang antara masjid dan kuburan ..saran saya, coba antum sendiri kesana, cb lihat apa bnr yang antum tuduhkan itu…
Wassalam
Maret 14, 2007 pada 4:37 pm
Assalamu’alaykum
Untuk ustad saya mohon membahas tentang LDII,karena dimana telah banyak beredar,apalagi situs-situs mereka banyak mencela dakwah Salaf.lihat LDII Watch dll
Maret 15, 2007 pada 8:09 am
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
berita dari serambi indonesia banda aceh
“8 orang jamaah tabligh ditangkap dan di sandera oleh masyarakat karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. diantara anggota JT yang polisi tersebut diketahui bertato dan setelah diteliti barang barang mereka antara lain hp ternyata ditemukan hal-hal yang tidak islami….”
bukan fitnah dan bukan untuk menggeneralisir semua JT semacam itu..sekedar perenungan saja bagi ita semua. semoga Allah memberi hidayahnya untuk kita semua dalam memahami agamanya dengan benar, lurus dengan pemahaman para salafus Shalih yang mereka paling baik ilmu agamanya, paling dekat dengan Rasulullah S.A.W
Maret 15, 2007 pada 1:46 pm
saudaraku Abu Syadza.. di tempat saya di yogyakarta., orang2 salafy hanya karena kesalah pahaman sedikit telah menganiaya orang yang dianggap preman, dengan memukulinay sampai cacat..dan saya lihat itu dengan kepala sendiri, sejka saat itu mereka yang dianggap preman, mereka makin jauh hidupnya dari agama, dan hidayah tidak menyentuh hati mereka ..mengenai tatoo..mungkin mereka adalah orang yang yang sedang baru memulai taubat nasuha mereka, dan semuanya ana rasa perlu proses, tidak serta merta kalau mengenal islam lantas perbuatannya dulu yang dilarang ditinggalkan , tapi setidak2nya mengurangi, dan akhirnya lambat laun menghilangkannya sama sekali, dan satu lagi akhi..saya juag sering menemui jamaah salafy yang tidak mau menjawab salam yang di ucapkan orang lain..padahal katanya ulama2 salaf ? ulama salaf atau ’salah’ akhi ?
Maret 15, 2007 pada 3:52 pm
To Mas Galih
minta satu dalil disyari’atkannya Khuruj, dari Alqur’an maupun Hadits, atau atsar sahabat..
Maret 16, 2007 pada 9:44 am
Untuk Akh Galih, saya juga tinggal di jogja, tolong antum sebutkan di daerah mana orang salafy memukul preman ?
Saya nasehatkan untuk akh galih supaya antum rajin untuk menuntut ilmu agama dengan pemahaman salafush shalih dan banyak berdo’a memohon di mudahkan menerima kebenaran. Janganlah menjadi orang yang sombong karena menolak kebenaran yang ada dihadapan antum. Walaupun antum orang yang rajin beribadah, menunjukkan akhlaq yang baik tetapi jika antum lari, menjauh, menentang kebenaran yang ada di depan antum, maka pada hakekatnya antum orang yang sombong.
Saya nasehatkan juga untuk akh Galih, kenalilah ulama’. Siapakah sebenarnya yang dinamakan para ulama’. Apakah Muhammad Ilyas pantas dikatakan ulama’ ??
Sedikit cerita bahwa saya dan ikhwah saya pernah menasehati orang Jama’ah Tabligh Jogja beberapa kali. Tetapi mereka tidak mau menerima (Pada hakekatnya), meskipun ketika dinasehati mereka diam atau tidak dapat membantah apa yang kami sampaikan.
Apakah seorang muslim mempunyai sifat demikian ??
Menjadi penolak kebenaran
Wallohu Musta’an
Maret 16, 2007 pada 11:41 am
Saudara-saudara,
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Dari beberapa analisa yang kami lakukan, beberapa halnya menunjukkan bahwa hari ini kaum muslimin mempunyai kerangka yang kurang tepat, termasuk juga dalam lingkungan para ulama, terhadap usaha da’wah ini. Sehingga akhirnya menimbulkan kontra-produktif di lingkungan kaum muslimin.
Misalkan dalam hal hitungan waktu saja, akhirnya banyak kaum muslimin menanyakan mana dalilnya 3 hari, 40 hari dan 4 bulan. Sehingga akhirnya disebutkan saja sebagai aktifitas Bid’ah. Kalau kita runut kerangka ini, maka kita sendiri akhirnya bisa membalikan kerangka, bahwa orang yang sedang mendalami Islam dengan program DR, juga merupakan Bid’ah juga. termasuk juga dengan Ulama yang menyampaikan pandangan tentang waktu itu. Karena program waktu untuk S3 tidak ada di jaman Nabi. Sehingga Bid’ah juga. Tetapi kerangka ini keliru, dikarenakan tidak ada di jaman Nabi, maka kita katakan Bid’ah. Oleh karena itu, penjelasan tentang 3 hari, 40 hari, dan 4 bulan, seharusnya dipelajari terlebih dahulu, apa kerangka pengelolaan ini, jadi tidak langsung diarahkan karena tidak ada di jaman Nabi.
Kasus di atas merupakan hasil sebuah kerangka yang keliru, maka akhirnya menghasilkan pandangan yang keliru juga. Atau juga usaha da’wah ini tidak mempunyai pijakan kitabullah dan sunnah rasulullah SAW, dikarenakan tidak ada. Jelas ini merupakan satu kerangka yang kurang tepat dalam hal menyampaikan itu.
[b]Sehingga kami menemukan sebuah kerangka yang tidak tepat terhadap sebuah penilaian untuk sesuatu hal, maka akhirnya hasilnya juga akan tidak tepat juga. Silahkan ada beberapa tulisan yang dimudzakarahkan dengan teman-teman salafi di myQuran dan juga sidogiri.com. Dan kami sudah meminta kepada teman-teman salafi untuk membawanya kepada para ulama atau juga muridnya, sehingga kita kaum muslimin bisa saling cross-check dalam sebuah kerangka saling menasehati dan akhirnya membangun ummat dengan yang lebih baik[/b]
Maret 18, 2007 pada 6:04 am
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Kenapa harus kita mudzakarahnya secara tertutup dahulu? Kita saat ini sedang menggunakan mudzakarah terbuka (Internet), sehingga kaum muslimin yang lain perlu mengetahuinya secara terbuka juga. Apakah dikarenakan kami menyebutkan bahwa pandangan para ulama salafi kurang tepat, dan salah satunya kami menyebutkan kasusnya adalah terhadap pandangan khuruj itu sendiri. Sehingga akhirnya menyerempet terhadap pemberi pandangan itu sendiri, seperti yang kami jelaskan itu. Sehingga diperlukan mudzakarah secara tertutup.
Oleh karena itu, Insya Allah, kami akan kompilasi kembali terhadap tulisan kami yang ada di sidogiri, ketika kami bermudzakarah tentang hal perkara bid’ah ini, di situs itu secara terbuka dengan teman-teman salafi, bahkan sampai kami sampaikan menanyakan terhadap perkara khuruj segala, supaya semuanya menjadi fair terhadap kaidah yang dipergunakan.
Kami tetap berpedoman bahwa mudzkarah ini merupakan pola terbuka, tidak tertutup, supaya kaum muslimin yang lain juga mendapatkan pandangan-pandangan yang berkembang di lingkungan kaum muslimin, tidak hanya membaca dari satu sisi saja. Karena saat ini, banyak sekali pandangan yang berkembang di lingkungan kaum muslimin, tetapi terlihatnya satu arah, seolah-olah pandangan-pandangan yang disampaikan sudah benar mutlaknya.
Maret 18, 2007 pada 6:58 am
Saudara Abdul Haq,
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Kami sangat senang saudara memberikan nasehatnya kepada teman-teman kami. Tetapi saudara juga perlu santun, sampai-sampai saudara menanyakan apakah pantas Maulana Ilyas ini disebut Ulama. Hal ini artinya saudara, dan bahkan teman-teman salafi tidak memahami bagaimana menghormati kaum muslimin. Bukankah teman-teman salafi sering membaca hadits Nabi, bahwa ciri-ciri menghormati kaum muslimin merupakan ciri dari orang beriman. Apakah kita tidak perlu menjawab salam, dikarenakan kaum muslimin mengikuti usaha da’wah. Padahal sudah jelas sekali ucapan Nabi Muhammad SAW bahwa sampaikan salam kepada orang yang kamu kenal atau tidak kenal, dan juga bermuka manis kepada kaum muslimin.
Dan juga perlu saudara juga memahami bahwa nasehat itu tidak hanya satu arah saja, tetapi bisa dua arah juga, artinya yang diajarkan adalah saling menasehati sesuai dengan QS 103:1-3. Kecuali kita memahami bahwa nasehat itu untuk orang lain, sedangkan kita tidak perlu mendapatkan nasehat itu. Tidak mungkin teman-teman salafi memaksakan pandangan-pandangannya, tanpa mendapatkan feedback membangun juga. Karena dengan hal ini, seolah-olah para ulama salafi benar dalam fatwanya.
Bayangkan sdr., sampai ada satu ucapan bahwa usaha da’wah ini lebih berbahaya dari TARTAR. Sebuah perkataan yang berlebihan, dan sangat berbahay. Dan bisa dibayangkan kalau ada seorang ulama memanggil kepada ulama lainnya dengan kata-kata kasar, dengan sebutan salah satu hewan yang paling tidak disukai kaum muslimin.
Kami sangat senang mendapatkan nasehat, darimanapun, tetapi yang memberikan nasehat juga perlu mendapatkan feeback ilmiyah juga, sehingga tidak hanya satu arah saja. Disinilah saudara perlu banyak belajar, termasuk juga teman-teman salafi yang lainnya.
Maret 19, 2007 pada 6:55 am
Saudara-saudara,
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashrudin Al-Albani –Rahimahullah- dalam fatawa Al-Imarotiyah hal. 30 ketika ditanya tentang jama’ah tabligh, beliau memberikan jawaban : “Da’wah Jama’ah Tabligh adalah sufi masa kini (shufiyyah ashriyyah) yang tidak berpijak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya…”
Kalimat ini cukup mengejutkan bahwa usaha da’wah tidak mempunyai landasan atau berpijak kepada Kitabullah dan Sunnah-Rasul-Nya. Kami heran apa maksud dari kalimat ini, tetapi dari analisa kami sendiri pandangan seperti ini adalah tidak tepat sekali. Kaum muslimin saat ini sangat lemah dalam berbagai bidang, sehingga kita kaum muslimin seharusnya lebih bijak dalam menyampaikan pandangan-pandangannya. Saling mengingatkan hal yang harus dilakukan, tidak hanya kepada teman-teman usaha da’wah, tetapi juga kepada teman-teman salafi. Karena memang kaum muslimin harus saling mengingatkan.
Apakah mengajak kaum muslimin untuk sholat berjama’ah tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah bersilaturahmi antara kaum muslimin tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah berdzikir pagi dan petang di masjid tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah mendorong kaum muslimin untuk ikhlash dalam seluruh amal tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah untuk selalu membaca Al-quran tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah untuk menjaga sholat berjama’ah tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah untuk saling menjaga kehormatan kaum muslimin tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah untuk saling menghormati dan mengingatkan kaum muslimin tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Apakah menyampaikan da’wah Islam tidak diajarkan dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW?
Seluruhnya sangat dianjurkan dalam Al-quran dan juga Sunnah Rasulullah SAW, sehingga dengan pandangan di atas itu, merupakan pandangan yang keliru. Usaha da’wah ini sangat mendorong untuk mengamalkan beberapa hal di atas itu, dan segala berdasarkan pada quran dan sunnah, dan juga para shahabat RA.
Maret 19, 2007 pada 1:31 pm
Saudaraku seiman dan seaqidah ..
saya memang belum pernah ke india, tapi insya Allah setelah selesai kuliah..saya akan pergi kesana,melihat bagaimana sunnah nabi disana dipraktekkan dan diamalkan, dan bagi saudara salafi kami terkasih..
jika memang kalian memfitnah kami dengan tuduhan2 keji seperti kami menyembah kuburan disana, bisakah kalian tunjukkan buktinya ? pernahkah kalian semua menyelidiki lebih jauh ? pernahkah saudara2ku salafy menyaksikan sendiri kami menyembah kuburan ? jikalau kalian menyaksikan sendiri bahwa kami bukalah penyembah kuburan seperti yang kalian fitnahkan, apakah kalian tetap menganggap kami ahli bid’ah ?
Maret 19, 2007 pada 5:47 pm
Saudara-saudara,
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya secara pribadi menghormati syeikh Al-Banni dalam bidang ilmu hadits, meskipun banyak juga ulama yang lain memberikan pandangan-pandangannya terhadap beliau. Dan banyak manfaat yang saya peroleh dari beliau ini. Saat ini usaha da’wah di tataran arab menggunakan kitab riyadhush sholihin sebagai pembacaan ta’limnya, dan di tempat lain adalah kitab Fadhilah Amal. Saya sendiri tidak hanya terfokus pada kitab fadhilah amal, dan banyak juga teman-teman da’wah tidak hanya berkutat dengan fadhilah amal.
Saya sudah jelaskan sebelumnya, bahwa kita perlu bermudzakarah tidak tertutup seperti ini, dan hal ini jelas akan mempersempit mudzakarah ini. Kita susun saja beberapa hal perkara yang sering disampaikan oleh ulama salafi, dan kita sama-sama mudzakarah terhadap hal itu secara ilmiyyah. Tetapi kita harus membahasnya secara teratur dan sistematik.
Dan jika ada pandangan yang tidak dipahami oleh sdr, terhadap pandangan saya yang disampaikan terhadap pandangan-pandangan tersebut. Sebainya sdr. membawanya kepada ulama atau juga murid-muridnya untuk dibahas dan dikaji, karena hal ini untuk memberikan feedback yang membangun bersama di kalangan kaum muslimin. Saya pernah bermudzakarah dengan teman-teman salafi di myQuran, dan juga sidogiri. Sdr. Bisa membuka forum di sana, jika sdr. tetap berkeinginan membahas. Saya tidak berkeinginan membahas yang berkutat dengan kitab fadhilah amal saja, tetapi yang lainnya supaya yang lainnya bisa terbuka pikiran dan wawasannya.
Catatan:
Saya memahami bahwa forum feedback di situs ini, tidak mungkin dilakukan karena modelnya tidak untuk memberikan kerangka membangun bersama, tetapi lebih membangun satu arah.
Maret 20, 2007 pada 12:34 pm
fenomena sekarang banyak mantan aktivis JT yang berasal dari mahasiswa telah meninggalkan JT. Dengan alam demokrasi dan informasi yang tersebar juga semakin kuatnya pola pikir rasional dikalangan mahasiswa, mereka berani mempertanyakan metodologi JT dalam beragama. Seorang karkun yang khuruj disuatu wilayah tertentu Mengapa ikut2-an kegiatan kesyirikan diwilayah itudengan mengatasnamakan da’wah. Mereka JT tidak punya dalil yang SAH (SAhih dan Hasan) tentang metede da’wahnya.
Lau kaana khairan lasabaquna alaihi . Seandainya aqidah 6 sifat dan khuruj JT itu bai tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya.
Maret 21, 2007 pada 10:05 am
Untuk Haitan Rachman,
Yang namanya bermudzakaroh, yang penting diperhatikan bagi seorang muslim adalah ingin mencari kebenaran.Keikhlasan niat untuk mencari kebenaran.
Betapa banyak diskusi yang seperti ini yang tidak membawa hasil. Ya karena tujuannya tidak benar.
Ingat, bahwa da’wah yang haq itu di bangun diatas tauhid yang benar,fokus utamanya adalah da’wah tauhid, bukan masalah keutamaan suatu amal. Seandainya da’wah dengan khuruj, menetapkan waktu tertentu baik, menda’wahkan fadhail amal baik niscaya para sahabat sudah melakukannya.
Apakah JT fokus da’wahnya masalah tauhid ? apakah JT memberantas kesyirikan ?
Bagaimana mau berda’wah tauhid wong mereka sendiri belum faham benar masalah tauhid, kitab yang mereka pelajari juga bukan membahas tauhid.
Meskipun kalian mengatakan kami tidak hanya berda’wah pada kitab fadhail amal, kami juga berda’wah tauhid (sebagaimana yang dikatakan orang JT jogja ketika diskusi dg saya) namun kenyataanya mana ? dusta
Apakah yang namanya da’wah tauhid itu hanya mengatakan: “wahai bapak-bapak, ibu-ibu mari kita hanya mentauhidkan alloh dan tidak berbuat syirik” niscaya mereka akan berkata: “mari”
Ingatlah, yang namanya da’wah tauhid itu da’wah secara rinci, berdo’a hanya kepada Alloh, istianah, nadzar, tawaf, tawakal, semuanya hanya untuk Alloh dan di rinci penjelasannya dll
Apakah mereka pernah memperingatkan dari bahaya kesyirikan secara rinci ??
Menyembah kuburan, tawaf di kuburan, meminta pada penghuni kubur, bertawassul pada orang mati, memakai jimat semua itu syirik
Apakah mereka pernah menyampaikan hal ini ketika berda’wah ??
Jadi da’wah tauhid itu harus di rinci, bukan hanya global.
Dan inilah da’wah setiap rosul.
Jika keadaan mereka demikian maka benarlah jika para ulama’ menghukumi bahwa da’wah JT tidak mencontoh Rosululloh, dan banyak menyelisihi Rosululloh khususnya dalam permasalahan aqidah dan banyak melakukan hal-hal yang tidak dicontohkan Rosululloh.
Maret 22, 2007 pada 10:14 pm
begitu juga salafi akh.nanda .. begitu banyak aliran salafi yang terpecah2 di daerah saya,murid ustadz jafar umar talib banyak yang berpaling dari beliau, akhirnya buat salafi tandingan..di kampus saya pun takmir mesjidnya harus diganti karena takmir masjid dahulu yang kebanyakan orang 2 salafi selalu membuat resah jamaah..dan saudaraku abu salma, anda saya tantang untuk pergi ke india untuk menyaksikan sendiri apa kegiatan kami disana, betulkah menyemah kuburan atau tidak, anda tidak menyanggupi ? bagaimana mungkin anda tahu tanpa menyaksikan sendiri ? apa anda takut akan kebenaran sejati sehingga tidak menjawab tantangan saya ?
Maret 22, 2007 pada 10:31 pm
untuk saudaraku abdul haq..bahaya syirik yang melanda bangsa kita tentu juga menjadi titik keprihatinan kami,tapi perlu antum ingat , syirik2 seperti menyembah kuburan,sedekah laut,atau banyak yang lainnya telah mendarah daging selama ratusan tahum lamanya, dan telah menjadi adat istiadat khususnya masy.jawa..apakah itu semua langsung bisa sirna bgt saja dalam waktu singkat ? dakwah yang kami lakukan pelan2 , kita tidak langsung mengatakan bahwa itu syirik, karena nantinay akan justru membuat mereka marah karena mereka merasa adat mereka yang berusaha dilestarikan selama ratusan tahun itu dilecehkan, perlu diingat akhi, kita bukan arab, jangan disamakan bangsa ini dengan orang arab..bukan maksud saya untuk membela kesyirikan, tapi mnrt saya, dakwah yang kita lakukan sebisa mungkin jangan sampai menimbulkan masalah, seperti yan gterjadi di lombok terhdp orang2 salafi,setelah mereka dirasa ckp memiliki landasan ilmu yang kuat barulah kita sampaikan pelan2 bahaya syirik itu, secara perlahan2..lagipula bukankah tugas kita cm menyampaikan ? masalah hidayah urusan Allah akhi, bukan urusan kita.. Allah yang memutuskan siapa diantara umat Nya yang akan diberikan petunjuk ,dan bukankah itu juga yang dilakukan RAsul ?
Maret 22, 2007 pada 10:46 pm
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Sdr. Nanda Heksa, Sdr. Abdul Haq, dan teman-teman,
Sangat tepat sekali, kita mencari kebenaran dengan hal itu. Dan kebenaran itu bukan milik satu golongan atau kaum, tetapi kebenaran itu milik kita bersama, sebagai bagian dari kaum muslimin itu sendiri. Dan kita bersyukur hari ini telah menjadi bagian kaum muslimin itu sendiri.
Untuk itu, kita dapat bermudzakarah lebih luas dan berwacana terhadap kaidah-kaidah atau juga hal-hal yang berhubungan dengan usaha da’wah termasuk juga dengan pandangan-pandangan atau fatwa-fatwa yang disampaikannya.
Kita tidak mungkin bermudzakarah, kalau kita sendiri mempunyai ruang lingkup yang sempit, sehingga kebenaran itu sendiri cukup sulit kita peroleh dengan baik. Dan juga mungkin kita dapat libatkan teman-teman yang dahulunya pernah mengikuti usaha da’wah ketika mahasiswanya.
Jangan kuatir, kita semua mencari kebenaran itu sendiri. Kita semua pernah membaca ucapan Imam Syafi’i terhadap sebuah pandangan beliau, kalau ada kebenaran yang lebih shohih dari pendapatku maka itu juga pandanganku. Artinya beliau selalu mengikuti kebenaran itu sendiri. Itulah pandangan saya sendiri, tetapi kita harus mempunyai kerangka yang betul. Jangan sampai kita menilai sesuatu, tetapi kerangka yang dipergunakan keliru. Dan kami temukan hal itu dalam pandangan-pandangan teman-teman salafi, termasuk dengan tulisan yang diatas.
Tetapi bagaimana kita dapat mencari kebenaran itu sendiri, jika kita ini selalu dalam kerangka satu arah dan tidak melakukan eksplorasi yang lebih dalam dan bersama. Silahkan buka forum di tempat yang lebih terbuka, di situs myquran atau juga sidogiri.
Saya diminta mengirimkan email ke beberapa orang. Jelas ini tidak bisa dilakukan, karena kita semua perlu bermudzakarah secara terbuka dan seksama dan sistematika. Sehingga semua orang yang pernah tahu dengan usaha da’wah ini, dan juga sering memberikan komentar juga dapat terlibat secara sistematik dan eksplorasi lebih dalam dan telaten. Insya Allah, saya tunggu informasinya, karena kita semua mengajak untuk mencari kebenaran itu sendiri.
Maret 23, 2007 pada 5:00 pm
luar biasa memang salafi ini, awas berbalik kepada diri anda sendiri nantinya kesesatan itu, anda pasti tau dalilnya
Maret 24, 2007 pada 8:49 pm
Assalamulaikum
Akhsan bagian komen ditutup saja ana lihat perdebatan di sini semakin tidak ilmiyah & sedikit manfaatnya.
Maret 24, 2007 pada 10:51 pm
Semoga tujuan amtum menyingkap kesalahan2 jama’ah tabligh ini ikhlas karena Allah ta’ala dan bukan karena membenci jama’ah tabligh. Tetapi kalau antum mengatakan kalau di dalam jama’ah tabligh itu semuanya bid’ah dan tidak ada yang benar saya berani bersaksi kalo antum KADZDZAB
Maret 26, 2007 pada 9:46 am
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
My Brother,
Terimakasih, hanya beberapa bagian tulisan yang pernah disampaikan dalam situs ini, tidak ditampilkan. Tetapi kami tetap menghargai hal itu, meskipun point-point cukup penting.
Maret 27, 2007 pada 10:26 am
abu yusya assulaify Berkata:
Maret 24th, 2007 pada 8:49 pm
Assalamulaikum
Akhsan bagian komen ditutup saja ana lihat perdebatan di sini semakin tidak ilmiyah & sedikit manfaatnya.
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Kita kaum muslimin perlu banyak belajar dengan perkembangan yang berkembang saat ini, tetapi kadangkala kita juga tidak dapat hanya diajari dengan pola berpikir yang satu arah dan tidak adanya feedback pada pandangan-pandangan yang berkembang itu. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan tidak hanya ilmiyyah dari sisi satu sumber saja, tetapi juga ilmiyyah dari sumber lain. Sehingga ilmiyyah itu dapat dibangun untuk kalangan kaum muslimin.
Internet saat ini sudah dipergunakan untuk penyebaran ilmiyyah, tetapi kadangkala kaum muslimin tidak hikmah terhadap ilmiyyah itu sendiri. Artinya kita hanya memandang ilmiyyah kepada satu pandangan, tetapi feedback terhadap pandangan itu tidak dianggap ilmiyyah. Ini merupakan yang terjadi saat ini di lingkungan kaum muslimin saat ini. Dan hal ini sudah nampak di hadapan kita semua.
Maret 27, 2007 pada 3:10 pm
akh abu salma, mungkin sebaiknya antum menurunkan tulisan Ust. Abdul Hakim yang membantah pembesarnya JT di Masjid An-Nur Pekanbaru.
Maret 29, 2007 pada 7:08 am
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Kepada teman-teman,
Kami sangat senang sekali untuk mudzakarah tentang usaha da’wah ini. Tetapi kadangkala mudzakarah di situs ini cukup kurang fleksible.
Maret 29, 2007 pada 7:35 am
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Di bawah ini merupakan tulisan singkat mudah-mudahan bermanfaat.
Perkara-I:
Banyak pandangan yang berhubungan terhadap usaha da’wah dikarenakan kitab fadhilah amal ini.
Saudara-saudara,
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Kami tidak memberikan penjelasan terhadap hadits-hadits yang disampaikan itu, tetapi kami mengajak untuk lebih berpikir proporsional dalam menghadapi keadaan, sehingga kita dapat membangun kebersamaan untuk kaum muslimin di masa depan, tidak lagi dalam suasana Kontra-Produktif. Sehingga tulisan-tulisan ini lebih mengajak untuk berpikir, tidak lagi dalam saling bermudzakarah dalam hadits-haditsnya.
Kitab Fadhilah Amal yang sekarang banyak dipelajari kaum muslimin merupakan kitab untuk dorongan beramal. Saat ini telah ada pandangan-pandangan yang berlebihan terhadap usaha da’wah ini dikarenakan kitab fadhilah amal, seperti dinyatakan bahwa usaha da’wah ini sebagai aliran sesat, banyak melakukan bid’ah, khurafat, dsb. Sehingga pandangan-pandangan ini sangat berlebihan, bahkan seolah-olah memperlihatkan ketidaksukaan sebagian kaum muslimin terhadap usaha da’wah ini. Dan hal ini telah memberikan perilaku yang kurang baik, misalkan menyimpan kitab fadhilah amal ke dalam tong sampah. Perilaku ini jelas tidak terpuji disisi Agama kita yang mulia ini.
Beberapa ulama menyatakan bahwa kitab ini mempunyai hadits yang dhoif, maudhu, mungkar. Tulisan dari kitab ini jelas merupakan hasil karya seorang ulama yang berdasarkan pada sumber-sumber rujukan (referensi) sebelumnya. Artinya bahwa kitab ini tidak terlepas dari sumber-sumber yang menjadi rujukannya. Tetapi yang harus dipahami bahwa penentuan hadits dhoif dan maudhu terhadap bobot satu hadits, belum tentu semua ulama mempunyai timbangan yang sama. Kita semua dapat mempelajari dari beberapa kitab hadits yang ada sekarang ini. Bahkan dalam kitab Targhib Wat Tarhib sendiri beberapa haditsnya dinyatakan sebagai maudhu oleh Syeikh Al-Banni, atau juga kitab Al-Mashobih.
Yang menjadi sebuah pertanyaan besar adalah kenapa demikian terbukanya para ulama salafi terhadap kitab fadhilah amal, sampai-sampai dengan menggunakan perkataan-perkataan yang boleh jadi berlebihan. Tetapi kenapa tidak juga dilakukan kepada kitab-kitab yang menjadi rujukan kitab fadhilah amal sendiri, seperti kitab targhib wat tarhib atau kitab al-mashobih. Sehingga dengan pendekatan seperti ini, kenapa tidak dilakukan kepada rujukan-rujukannya, karena ini lebih mendasar lagi sebenarnya.
Padahal dalam usaha da’wah ini jelas mempunyai kebijakan-kebijakan, misalkan saja kitab riyadhush sholihin dipergunakan di tataran arab. Kenapa dipilihnya kitab riyadhush sholihin? Tidak kitab-kitab lainnya, misalkan kitab al-muntaqa atau kitab bulughul murom. Hal ini sebenarnya melalui proses musyawarah. Sudah dijelaskan diawal bahwa kitab yang diperlukan adalah kitab yang menjadi dorongan-dorongan amal, sehingga lebih memudahkan kaum muslimin untuk membentuk suasana amal islam itu sendiri.
Sebenarnya para ulama salafi atau siapa saja yang mempunyai kemampuan terhadap hadits, tidak perlu dengan cara seperti itu disampaikannya, sehingga akhirnya hanya mempunyai dorongan-dorongan kepada kaum muslimin awam, terutama para pemuda yang baru belajar Islam dengan semangatnya, untuk berperilaku yang tidak islami, misalkan menyimpan kitab ke dalam tong sampah, tidak menjawab salam ketika disampaikan salam.
Syeikh Al-Banni sudah melakukan pembagian terhadap kitab-kitab besar, misalkan kitab Targhib Wat Tarhib, Tirmidzi. Sehingga dibagi ke dalam dua bagian utama, yaitu kitab khusus Shohih saja dan juga dhoif atau maudhu. Sehingga ini mungkin akan memudahkan bagi yang lainnya. Ini merupakan yang sistematik, meskipun ada sebagian ulama lain yang kurang berkenan terhadap pemisahan hal ini. Dari contoh di atas, tidak ada satupun ucapan-ucapan yang meremehkan terhadap si penulisnya sendiri, meskipun syeikh al-banni sendiri menyebutkan ada yang dhoif atau maudhu.
Kitab Riyadhush Sholihin dipergunakan untuk di tataran Arab. Artinya tidak menutup kemungkinan dipergunakan kitab lainnya. Kami sering perhatikan terhadap kitab-kitab lainnya, para ulama juga mengetahui bahwa terdapat hadits-hadits yang dhoif dan maudhu dalam kitab-kitab itu. Para ulama tidak serta menyalahkan atau bahkan menapikan sama sekali terhadap kitab-kitab itu.
Terhadap kitab Fadhilah Amal ini, penulis sendiri, Maulana Dzakaria, memberikan kesempatan kaum muslimin untuk menyampaikannya kepada orang-orang yang ditunjuk oleh Penulisnya sendiri, bukan kepada setiap orang yang terlibat dalam usaha da’wah ini. Seperti tadi kita kaum muslimin tidak semuanya mempunyai pandangan yang sama terhadap satu bobot hadits tadi, misalkan yang telah kami sampai sebelumnya, Syeikh Al-Banni saja memilahkan kitab itu ke dalam dua kitab yang berbeda. Itu merupakan hak ilmiyah dari Syeikh Al-Banni, tetapi juga bukan berarti semuanya harus sama mengikutinya terhadap pembobotan itu.
Kitab Riyadhush Sholihin merupakan kitab yang dipergunakan secara baik, jadi artinya jika ada kitab yang boleh jadi cocok dengan sasaran yang dimaksud ta’lim fadhilah itu, maka kita sendiri bisa mengajukannya. Atau jika memang tidak ada, maka boleh jadi kita melakukan pemisahan terhadap kitab fadhilah Amal itu sendiri, seperti syeikh Al-Banni terhadap kitab Tirmidzi, dan juga disebar luaskan ke lingkungan kaum muslimin. Atau jika tidak berkenan dengan pemisahan ini, maka coba kita susun kembali tulisan-tulisan fadhilah Amal seperti kitab riyadhush sholihin atau bahkan seperti kitab fadhilah amal, yang disusun oleh Maulana Dzakaria. Artinya kita semua perlu diajari dengan cara-cara yang membangun bersama di lingkungan kaum muslimin, tidak hanya diarahkan kepada sebuah keadaan yang bukan alamnya sekarang ini.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Haitan Rachman
Maret 30, 2007 pada 8:19 am
abu jibrin Berkata:
Maret 27th, 2007 pada 3:10 pm
akh abu salma, mungkin sebaiknya antum menurunkan tulisan Ust. Abdul Hakim yang membantah pembesarnya JT di Masjid An-Nur Pekanbaru.
Kami kira perlu juga, sehingga kita dapat bermudzakarah. Dan mungkin saja kami dapat memberikan masukan yang diperlukan. Dan untuk sdr. pemilik situs ini, apa-apa yang diminta dan dikirim ke email, merupakan hal yang cukup berat dan panjang, karena jelas nantinya merupakan tulisan yang cukup panjang, dan merupakan buku dan hal ini memerlukan waktu. Tetapi jika melalui mudzakarah, kita akan pada topik-per-topik.
Tetapi sebagai informasi saja, kitab aqidah yang kami pelajari yaitu Kitab Aqidah Imam Thohawiyyah , Kitab Al-Iman. Oleh karena itu, kami berikan apa yang tertulis di beberapa situs saja, seperti http://shahabat.jamrud.com dan juga http://www.jamrud.com/tabligh; serta di situs forum terbuka di http://www.sidogiri.com atau juga http://www.myquran.com
Maret 30, 2007 pada 8:23 am
Saya dari Malaysia. Saya juga pernah mengikuti firqah tabligh dahulu (pernah keluar 40H). Alhamdulillah, selepas mengikuti program/kuliah hadis dari para ustaz salaf, terbuka hati ini untuk mengkaji berkenaan pegangan/manhaj tabligh ini. Bukti yang saya perolehi cukup jelas menunjukkan bahawa J.T. tidak berdiri di atas manhaj salafushaleh. Tetapi J.T mengikuti manhaj Muhammad Ilyas iaitu manhaj Sufi.
Buktinya ada di dalam buku2 karangan beliau dan Muhammad Zakaria. Saya mempunyai hampir kesemua buku2 terjemahan J.T saya perolehi dari Masjid Sri Petaling iaitu markaz Tabligh di Malaysia. Fadhilat Amal, Sedekah, haji semua cerita Sufi. Yg paling menyedihkan adalah apa yg ditulis oleh. Mohd. Zakaria di dalam Fad. Selawat (Darood). Buku ini pernah di jual di Masjid Sri Petaling tetapi sudah tiada di sana (saya sempat membeli buku itu). Cerita2 di dalam memang merosakkan akidah kita. Semoga Allah mengampunkan mereka ini.
Muhammad Zakaria banyak memasukkan unsur2 Kasyaf, Sufi, kisah Wali/Nabi Khidir dan Mimpi di dalam tulisan beliau. Pendapat yg kuat, mimpi bukan Hujah. Tetapi , kalau tuan baca buku Malfuzat Siri Alif, kata/nasihat Muhammad Ilyas, beliau dengan jelas mengatakan beliau mendapat perintah untuk usaha tabligh ini melalui mimpi (tafsiran beliau ke atas ayat alquran - “kamu adalah umat yg terb