أهل السنة ظاهرون إلى يوم القيامة

Ahlus Sunnah Akan Jaya Sampai Hari Kiamat

KAWIN KONTRAK : TRADISI KAUM SYIAH

Ditulis oleh abu salma di/pada April 1, 2007

KAWIN KONTRAK : TRADISI KAUM SYI’AH

Dalam urusan nikah mut’ah Syi’ah memiliki banyak keburukan, kekejian, hal-hal yang menjijikkan dan kebodohan terhadap Islam. Mereka mengangkat nilai setiap keburukan dan meninggikan setiap yang kotor. Mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah (berupa zina) atas nama agama dan dusta terhadap para Imam. Mereka membolehkan semua yang mereka mau, mereka membiarkan nafsu tenggelam dalam kelezatan yang menipu dan kemungkaran-kemungkaran. Mut’ah adalah sebaik-baik saksi dan bukti, mereka telah menghiasi mut’ah dengan segala kesucian, keagungan dan keanggunan, hingga mereka menjadikan balasan pelakunya adalah surga -Naudzubillah-, mereka memperbanyak keutamaan-keutamaan mut’ah dan keistimewaannya, seraya menyesatkan -sebagaimana lazimnya- orang-orang yang mereka jadikan sebagai tawanan bagi ucapan-ucapan mereka yang dusta. Di antaranya ialah:

Al-Kasyani dalam tafsirnya, berbohong atas Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda, Telah datang kepadaku Jibril darl sisi Tuhanku, membawa sebuah hadiah. Kepadaku hadiah itu adalah menikmati wanita-wanita mukminah (dengan kawin kontrak). Allah belum pernah memberikan hadiah kepada para nabipun sebelumku, Ketahuilah mut’ah adalah keistimewaan yang dikhususkan oleh Allah untukku, karena keutamaanku melebihi semua para nabi terdahulu. Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dalam umurnya, la menjadi ahli surga. Jika laki-laki dan wanita yang melakukan mut’ah berter di suatu tempat, maka satu malaikat turun kepadanya untuk menjaga hingga mereka berpisah. Apabila mereka bercengkerama maka obrolan mereka adalah berdzikir dan tasbih. Apabila yang satu memegang tangan pasangannya maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan bercucuran keluar dari jemari keduanya. Apabila yang satu mencium yang lain maka ditulis pahala mereka setiap ciuman seperti pahala haji dan umrah. Dan ditulis dalam jima’ (persetubuhan) mereka, setiap syahwat dan kelezatan satu kebajikan bagaikan gunung-gunung yang menjulang ke langit. Jika mereka berdua asyik dengan mandi dan air berjatuhan, maka Allah menciptakan dengan setiap tetesan itu satu malaikat yang bertasbih dan menyucikan Allah, sedang pahala tasbih dan taqdisnya ditulis untuk keduanya hingga hari Kiamat.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani)

Mereka juga berdusta atas nama Ja’far Ash-Shadiq, alim yang menjadi lautan ilmu ini! dikatakan oleh mereka telah bersabda: “Mut’ah itu adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Yang mengamalkannya, mengamalkan agama kami dan yang mengingkarinya mengingkari agama kami, bahkan ia memeluk agama selain agama kami. Dan anak dari mut’ah lebih utama dari pada anak istri yang langgeng. Dan yang mengingkari mut’ah adalah kafir murtad.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.356)

Mereka juga berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda: “’Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dimerdekakan sepertiganya dari api neraka, yang mut’ah dua kali dimerdekakan dua pertiganya dari api neraka dan yang melakukan mut’ah tiga kali dimerdekakan dirinya dari neraka.”

Mereka menambah tingkat kejahatan dn kesesatan merea dengan meriwayatkan atas nama Rasulullah Shallallhu‘alihi wasallam: “Barangsiapa melakukan mut’ah dengan seorang wanita Mukminah, maka seoloh-olah dia telah berziarah ke Ka’bah (berhaji sebanyak 70 kali).(‘Ujalah Hasanah Tarjamah Risalah Al Mut’ah oleh Al-Majlisi Hal.16).

Mut’ah, Rukun, Syarat dan Hukumnya

Fathullah Al-Kasyani menukil di dalam tafsirnya sebagai berikut, “Supaya diketahui bahwa rukun akad mut’ah itu ada lima: Suami, istri, mahar, pembatasan waktu (Taukit) dan shighat ijab qabul.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.357)

Dia menjelaskan, “Bilangan pasangan mut’ah itu tidak terbatas, dan pasangan laki-laki tidak berkewajiban memberi nama, tempat tinggal, dan sandang serta tidak saling mewarisi antara suami-istri dan dua pasangan mut’ah ini. Semua ini hanya ada dalam akad nikah yang langgeng,” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.352)

 Syarat-syarat Mut’ah

  1. Perkawinan ini cukup dengan akad (teransaksi) antara dua orang yang ingin bersenang-senang (mut’ah) tanpa ada para saksi!

  2. Laki-laki terbebas dari beban nafkah!

  3. Boleh bersenang-senang (tamattu’) dengan para wanita tanpa bilangan tertentu, sekalipun dengan seribu wanita!

  4. Istri atau pasangan wanita tidak memiliki hak waris!

  5. Tidak disyaratkan adanya ijin bapak atau wali perempuan!

  6. Lamanya kontrak kawin mut’ah bisa beberapa detik saja atau lebih dari itu!

  7. Wanita yang dinikmati (dimut’ah) statusnya sama dengan wanita sewaan atau budak!

Abu Ja’far Ath-Thusi menukil bahwa Abu Abdillah Alaihis-Salam (Imam mereka yang di anggap suci) ditanya tentang mut’ah apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Tidak, juga tidak hanya tujuh puluh.”

Sebagaimana dia juga pernah ditanya apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Kawinlah (secara mut’ah) dengan seribu orang dari mereka karena mereka adalah wanita sewaan, tidak ada talak dan tidak ada waris dia hanya wanita sewaan.”(At-Tahdzif oleh Abu Ja’far Aht-Thusi, Juz III/188)

Mereka menisbatkan kepada imam keenam. yang ma’shum dia bersabda, “Tidak mengapa mengawini gadis jika dia rela tanpa ijin bapaknya.” (At-Tahdzif Al-Ahkam juz VII/256)

Mereka menisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq, dia ditanya, “Apa yang harus, saya katakan jika saya telah berduaan dengannya?” Dia berkata, engkau cukup mengatakan ,aku mengawinimu secara mut’ah (untuk bersenang-senang saja) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, tidak ada yang mewarisi dan tidak ada yang diwarisi, selama sekian! hari.Jika kamu mau, sekian tahun, Dan kamu sebutkan upahnya, sesuatu yang kalian sepakati sedikit atau banyak.(Al-Furu’ Min Al Kafi Juz V/455)

Demikianlah kawin mut’ah dalam agama Syi’ah yang dengannya mereka menipu orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang yang awam, seraya menyihir mata mereka dengan berbagai macam atraksi sulap dan sihir serta, mengada-ada ucapan dusta, atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Bantahan terhadap Kebolehan Mut’ah

Sesungguhnya nikah mut’ah pernah dibolehkan pada awal Islam untuk kebutuhan dan darurat waktu itu kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengharamkannya untuk selama-lamanya hingga hari Kiamat. Beliau malah mengharamkan dua kali, pertama pada waktu Perang Khaibar tahun 7 H, dan yang kedua pada Fathu Makkah, tahun 8 H.

Mereka [Syi’ah sendiri] meriwayatkan bahwa Ali berkata, “Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengharamkan pada Perang Khaibar daging himar jinak dan nikah mut’ah.” (At-Tahdzif Juz II/186) Riwayat inipun terdapat dalam sahih Bukhari. Maka semakin jelas tentang agama mereka yang dibangun atas dasar rekayasa, ucapan mereka bertentangan satu sama lain. Maka kami membantah kalian wahai Syi’ah !!, dengan kitab-kitab kalian sendiri.

Ini adalah salah satu sebab yang membuat mereka berakidah taqiyah (berbohong). Padahal perlu diketahui bahwa dalam agama Syi’ah tidak boleh melakukan taqiyah dalam mut’ah, la taqiyyata fi al-mut’ah (tidak ada taqiyah dalam mut’ah).

Ali, Umar dan Ibnu Abbas Berlepas Diri

Kemudian, Umar tidak pernah mengatakan, “Mut’ah halal pada zaman Nabi dan saya melarangnya!” Tetapi mut’ah dulu halal dan kini Umar menegaskan dan menegakkan hukum keharamannya. Yang demikian itu karena masih ada orang yang melakukannya. Adapun dia mengisyaratkan bahwa dulu memang pernah halal, ya, akan tetapi beberapa waktu setelah itu diharamkan. Di antara yang menguatkan lagi adalah pelarangan ‘Ali ketika menjadi khalifah.

Syi’ah tidak memiliki bukti dari Salaf Shalih kecuali dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, akan tetapi Ibnu abbas sendiri telah rujuk dan mencabut kembali kebolehannya kembali kepada pengharamannya, ketika di mengetahui larangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia (Ibnu Abbas) telah berkata : “Sesungguhnya hal ini perlu saya jelaskan agar sebagian Syi’ah Rafidhoh tidak berhasil mengelabui sebagian kaum Muslimin.” (Sunan Al-Baihaqi 318 100 ; muhammad Al-Ahdal, hal. 251-252)

Sebagaimana kitab Syi’ah sendiri menyebutkan keharamannya, dan Imam Syi’ah ke-enam [yang diangap suci dari kesalahan] telah berkata kepada sebagian sahabatnya : “Telah aku haramkan mut’ah atas kalian berdua” (Al-Furu’ min Al-Kafi 2 48).

Adapun dalil mereka dengan sebagian hadits-hadits yang ada pada kitab Shahih Ahlussunnah maka hadits-hadits tersebut telah dinasakh [dihapus hukumnya]. Hal ini menjadi jelas dari hadits-hadits yang datang mengharamkan setelahnya. Di antara yang menunjukkan mut’ah bukan nikah adalah mereka [syi’ah] memandang bahwa mut’ah boleh dengan berapa saja sekalipun seribu wanita. Ini adalah menyalahi Syari’at yang hanya membolehkan [paling banyak] empat wanita.

Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi “Asy-Syi’ah minhum ‘alaihim

[Al-Hujjah Risalah No: 48 / Thn IV / Shafar / 1423H]

 

4 Tanggapan ke “KAWIN KONTRAK : TRADISI KAUM SYIAH”

  1. sapto Berkata:

    Asalamu’alaikum
    Maaf, pengen nanya aja.
    Mut’ah pernah dihalalkan dengan alasan apa yah?
    padahal kan jelas tindakan ini sama aja dengan zina.

  2. mualaf27 Berkata:

    Assalamualaikum,

    Wa’alaikumus Salam Warohmatullahi

    Dulu mut’ah dihalalkan An Nisaa’ 24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari wanita-wanita dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka wanita-wanita yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    Dulu memang nikah mut’ah sempat dibolehkan, lalu kemudian diharamkan dengan kesepakatan para ulama ahlus sunnah. Adapaun ahlul bid’ah, maka kesepakatan mereka tidaklah diterima.

    Tetapi menurut ustadz abu salma nikah mut’ah itu sama saja dengan pelacuran, saya koq bingung, mungkinkah Allah swt dan Rasulullah saaw, keliru dalam membolehkan nikah mut’ah, karena ternyata (menurut ustadz abu salma) sama dengan pelacuran..!!!!

    Memang benar, mut’ah di zaman ini yang dilakukan oleh Rafidhi adalah bentuk pelacuran yang dilegalkan atas nama Islam. Adapun Alloh dan Rasul-Nya tidak pernah keliru, karena Alloh dan Rasul-Nya lah yang mengharamkannya. Adapun yang keliru adalah pemahaman kaum Rafidhah dan ahli bid’ah.

    Ada seorang ibu/janda sopir taxi dengan 3 putra yang masih kecil2, ada 4 opsi yang kita bisa lakukan untuknya:
    1. Nikahi yang langgeng dg syarat harus berlaku adil.
    2. Nikahi secara mutah,dlm waktu 1jam/1hari/1bulan/1tahun/1abad.
    3. Disantuni/dicukupi kebutuhan keuangannya (padahal istri kita sendiri dicukupi dg uang saja pasti tidak mau).
    4. Biarkan aja.(yang ke 4 ini perilaku orang yg tidak beriman).
    Kelihatannya ustadz abu salma memilih opsi yang ke 4 ya……

    Logika anda ini terlalu lucu, dan bagaimana mungkin anda membawa alur pemahaman kepada logika yg lucu seperti itu. Jika seorang muslim mampu menikahi janda itu, maka ini lebih baik dan utama. Adapun opsi nomor 4 jauh lebih baik daripada opsi nomor 2. Namun, perkataan di sana tdk tepat, seharusnya, apabila tdk mampu menikahi dan membantu si janda tsb, maka hal ini telah berada di luar kemampuan kita. Namun, kita wajib menolong semampu yg kita bisa, dan haram kita nikahi secara mut’ah…

    anda menutup mata terhadap muslimah2 kita yang dizinai oleh orang2 kafir, musyriq. termasuk kyai2 di MUI, umat muslimahnya diperlakukan spt itu koq diam aja..piye to!!!!

    Loh, apa hubungannya mengharamkan nikah mut’ah yang telah Alloh dan rasul-Nya haramkan dengan menutup mata thd muslimah yg dizinai orang kafir. Anda ini terlalu berlebihan… Pake menyalahkan MUI lagi… weleh-weleh, logika anda sangat lucu sekali…
    Apakah maksud anda, supaya muslimah2 kita tidak dizinai orang-2 kafir dan musyrik kita nikahi mut’ah saja… Kenapa tidak dinikahi saja tanpa dimut’ah??? apakah menurut anda nikah itu hanya utk seks dan senang-2?? Aduhai, ucapan anda ini bagaikan ucapan seorang penyair :
    “Aku jalan ke barat dan kau malah jalan ke timur
    Aduhai, betapa jauhnya barat dan timur

    Kalau ada orang yg menyalahgunakan kehalalan nikah mut’ah, bukan nikah mut’ahnya yang diharamkan, orangnyalah - yang menyalah gunakan itu yang dihukum.

    Disalahgunakan atau tidak disalahgunakan, nikah mut’ah itu ya sudah merupakan bentuk penyalahgunaan dan eksploitasi kpd wanita. Bahkan Khomeini sendiri memut’ah bayi wanita, sebagaimana diutarakan oleh Musa al-Musawi dalam bukunya “Lillah tsumma lit Taarikh”… ada lagi yg pernah mut’ah dengan ibunya, lalu selesai kontraknya, kemudian memut’ah puterinya yg telah gadis… Allohul musta’an…

    Sebelum menulis itu mbok ya mohon hidayah Allah swt dulu spt Nabi Ibrahim,
    Ash Shaaffat 99. Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku[1282].

    Waduh-2 mas, mbok ya bercermin dulu…

    Bukankah antum 5 kali sehari menghadap Allah swt…,makanya shalatnya jangan berbohong, menyatakan menghadap Allah swt ternyata hatinya melayang-layang.

    Waduh-waduh… jadi dukun toh sekarang, bisa mengetahui hal yg ghaib. Menerka hati manusia padahal hanya Alloh yang tahu… apakah anda sholatnya tidak 5 kali sehari, ataukah 3 kali?

    Jangan sampai niatnya menulis mau beramal soleh malah jadinya beramal SALAH, ustadz kasihan banget antum.
    Ngeri kalau membayangkan keyakinan antum ” berijtihad benar pahalanya 2, yang salah dapat 1 pahala ( salah yo dibakar to…piye iki). Salam

    Setelah menerka hati, sekarang menerka niat… “Hebat” benar anda.
    Kalo anda mau mut’ah ya mbok gak usah marah-2. Terserah anda… nanti kalo ada teman anda mau mut’ah dengan ibu, saudari atau bibi anda, anda harus bersyukur dan menerima… Allohu yahdik!

  3. mualaf2706 Berkata:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Terimakasih-terimakasih balasan salam dan komentarnya ustad abu salma,
    Ustad abu salma: Dulu memang nikah mut’ah sempat dibolehkan, lalu kemudian diharamkan dengan
    kesepakatan para ulama ahlus sunnah. Adapun ahlul bid’ah, maka kesepakatan mereka tidaklah diterima.
    Mualaf: Jadi benar ya ustad dulu nikah mut’ah itu di bolehkan berdasarkan surat An Nisaa’ 24: dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak
    yang kamu miliki[282] (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.
    Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari wanita-wanita dengan hartamu
    untuk dikawini bukan untuk berzina.
    Maka wanita-wanita yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya
    (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu
    yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284].
    Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    [---truncated---]

    Wa’alaikumus Salam warohmatullahi wabarokatuh
    Akan dijawab secara khusus di halaman utama…

  4. mualaf2706 Berkata:

    syukron, jazakallah

Tinggalkan Balasan

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.